HIZIB SYEIKH ABDUL QODIR AL JAILANI

Posted on Updated on

Hizib Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani

Doa di bawah ini dikenal dengan sebutan Hizib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, berisi kumpulan doa (Hizib) rangkaian ayat Al-Quran yang dinisbatkan kepada Sulthonul Auliya Hadhrotus Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, rajanya para wali dan para kekasih Allah swt. Hizib ini jika diamalkan insya Allah memiliki khasiat yang besar dan banyak, di antaranya sebagai berikut:

1. Akan hilang kesusahan, sebesar dan sebanyak apapun kesusahan yang dirasakan.
2. Akan hilang segala kepahitan hidup.
3. Akan diluaskan rizkinya, laksana kucuran air hujan dari langit.
4. Akan selamat dari setiap orang yang hendak mencelakakannya karena doa ini merupakan pagar ghaib yang sangat ampuh.
5. Akan dijauhkan dari kejahatan orang-orang yang memusuhi, dan jika mereka mendekat maka mereka akan binasa.
6. Akan dijauhkan dari bahaya sihir, santet dan sebangsanya.

Masih banyak lagi khasiat yang terkandung dari buah amalan hizib tersebut bagi pengamalnya, berikut ini adalah bacaannya:

رَبِّ اِنِّي مَغْلُوْبٌ فَانْتَصِرْ
وَاجْبُرْ قَلْبِي المُنْكَسِرْ
وَاجْمَعْ شَمْلِي المُنْدَثِرْ
اِنَّكَ اَنْتَ الرَّحْمَنُ المُقْتَدِرْ
وَاكْفِنِي يَا كَافِي فَأَنَا العَبْدُ المُفْتَقِر
ْ وَكَفَي بِا للهِ وَلِيًّا وَكَفَي بِاللهِ نَصِيْرًا
اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْم
ٌ وَمَا اللهُ يُرِيْدُ ظُلْمًا لِلْعِبَاد
ِ فَقُطِعَ دَابِرُ القَوْمِ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا
وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

Rabbi innii maghluubun fantashir. Wajbur qalbiyal munkasir.
Wajma’ syamliyal mundatsir
Innaka antarrahmaanul muqtadir Wakfinii yaa kaafii fa anal ‘abdul muftaqir.
Wa kafaa billaahi waliyyan wa kafaa billaahi nashiiraa
Innasy Syirka ladzulmun ‘adziim. Wamallaahu yuriidu dzulman lil’ibaad. Faquthi’a daabirul qaumilladziina dzalamuu
Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.

Artinya:

Wahai Allah, aku telah kalah (kalah oleh tubuh dan nafsuku hingga tak mampu terus-menerus berdzikir dan mendekat kepadaMu), maka berilah pertolongan.
Maka hiburlah hati yang telah hancur ini.
Maka padukanlah kemuliaan dan kesempurnaan yang telah terselubung, sungguh Engkau Yang Maha Pengasih dan maha Menentukan.
Cukupkanlah bagiku (cukupilah segala kebutuhanku) dan aku adalah hamba yang sangat membutuhkan uluran bantuan dari Mu
Dan cukuplah sudah Allah sebagai Dzat yang diandalkan, dan cukuplah sudah Allah sebagai penolong.
Sungguh menduakan Allah merupakan kejahatan atau kedzaliman yang amat besar.
Dan tiadalah Allah itu menginginkan kejahatan  dan kegelapan bagi hamba-hambaNya.
Maka terputuslah segala tipu daya dan usaha mereka yang berbuat kejahatan. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.

Cara Mengamalkan:

1. Hizib di atas dibaca tujuh kali setiap ba’da shalat maghrib dan tujuh kali setiap ba’da shalat subuh.
2. Sebelumnya, lebih beradab berkirim hadiah fatihah kepada:
a. Rasulullah saw serta keluarga dan para sahabat beliau 1x.
b. Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani 1x.
c. Para ulama Al-Amilin dan kaum muslimin seluruhnya 1x.
3. Baca hizib di atas dengan baik,  ikhlas, yakin, dan istiqamah.

image

TIN DIN FII SABILILLAH

Posted on Updated on

TIN DIN FII SABILILLAH image

قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِي آيَةً قَالَ آيَتُكَ أَلا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلاثَةَ أَيَّامٍ إِلا رَمْزًا وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالإبْكَارِ

Allah swt berfirman: Berkata Zakariya as, “Berilah aku suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung).” Allah swt berfirman: “Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.” (QS. Ali ‘Imran 41)

Setelah Zakariya as mendengar jawaban itu dari malaikat Jibril as maka dia berkata, “Tuhanku berilah aku sesuatu tanda bahwa istriku akan hamil”. Menurut Hasan Al-Basri, Nabi Zakariya as bertanya demikian itu adalah untuk segera memperoleh kegembiraan hatinya atau untuk menyambut nikmat dengan syukur, tanpa menunggu sampai anak itu lahir. Kemudian Allah swt menjelaskan bahwa tanda istrinya mengandung itu ialah, bahwa dia sendiri tidak dapat berbicara dengan orang lain selama tiga hari. Selama tiga hari itu dia hanya dapat mempergunakan isyarat dengan tangan, kepala dan lain-lainnya. Dan beliau tidak lalai dari berdzikir dan bertasbih kepada Allah swt. Dan Allah swt menjadikan Zakariya as tidak bisa berbicara selama tiga hari itu adalah, agar seluruh waktunya digunakan untuk dzikir dan bertasbih kepada-Nya, sebagai pernyataan syukur yang hakiki. Menurut Al Qurtubi, sebagian mufassirin mengatakan bahwa tiga hari Zakariya as menjadi bisu itu adalah sebagai hukuman Allah swt terhadapnya, karena dia meminta pertanda kepada Malaikat sehabis percakapan mereka. Di akhir ayat ini Allah swt memerintahkan kepada Zakariya as agar tetap ingat kepada Allah swt dan berdzikir sebanyak-banyaknya pada waktu pagi dan petang hari, sebagai tanda syukur kepada-Nya. Menurut Jalalain, (Maka katanya, “Wahai Tuhanku! Berilah aku suatu ciri.”) atau tanda bahwa istriku telah hamil. (Firman-Nya, “Tandanya ialah bahwa kamu tidak dapat berbicara dengan manusia) artinya terhalang untuk bercakap-cakap dengan mereka tetapi tidak terhalang untuk berdzikir kepada Allah swt. (selama tiga hari) dan tiga malam (kecuali dengan isyarat) atau kode (dan sebutlah nama Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah) maksudnya shalatlah (di waktu petang dan pagi.”) di penghujung siang dan di akhir malam. Menurut Ibnu Katsir, Allah swt memerintahkan kepada Zakariya as agar banyak berdzikir, bertakbir dan membaca tasbih selama masa tersebut (tiga hari).

Para mufassirin berkata tanda diterimanya doa Zakariya as ialah dia tidak boleh bercakap selama tiga hari kecuali dengan isyarat. Pada masa itu Allah swt telah memerintahkan Zakariya as supaya berdzikir sebanyak-banyaknya dan meninggalkan perkataan-perkataan dunia untuk menambah kedekatannya kepada Allah swt. Daripada ayat ini para ulama berpendapat bahwa sekiranya manusia dapat mengasingkan diri keluar di jalan Allah swt selama tiga hari dengan membersihkan diri dari fikir dunia. Meninggalkan percakapan dunia dan menyibukkan diri dengan amalan dakwah, beribadah, belajar dan mengajar dan duduk dalam suasana agama sudah pasti akan memberi kesan di dalam hati sanubari seseorang itu. Cinta pada agama akan datang. Manusia akan membersihkan diri dari dosa. Bertaubat dan lebih hampir kepada Allah swt.

Di dalam Sahih Bukhari jilid kedua bab Maghazi dinukilkan bahwa seorang lelaki bernama Sumamah bin Ausal dari Banu Hanafiah telah ditawan dan diikat di dalam masjid Nabi saw. Selama tiga hari beliau telah melihat amalan orang Islam yang sibuk dengan amalan dakwah, belajar dan mengajar, beribadah dan berkhidmat satu sama lain. Hari yang pertama beliau tidak mau menerima Islam. Begitu juga pada hari yang kedua. Pada hari yang ketiga baginda Rasulullah saw telah membebaskannya. Setelah dibebaskan dari tawanan beliau merasakan sesuatu di dalam hatinya, lantas beliau mandi dan datang kembali ke masjid Nabi saw, bertemu dengan Baginda Rasulullah saw dan terus memeluk agama Islam. Betapa besarnya perubahan pada diri Sumamah yang amat berkesan dengan amalan masjid pada ketika itu. Dalam masa tiga hari menjadi sumber hidayah kepadanya. Rasulullah saw Mengutus Abdurrahman bin Auf ke Dumah Al Jandal Untuk Berdakwah.

Diriwayatkan oleh Daraquthni dan Ibnu Umar ra, katanya: Rasulullah saw. memanggil Abdur Rahman bin Auf ra dan bersabda kepadanya, “Bersiap-siaplah karena aku akan mengutusmu bersama satu sariyah.” Kemudian Ibnu Umar ra menceritakan hadits tersebut selengkapnya, di dalamnya dinyatakan: Kemudian Abdur Rahman pun keluar sampai menyusul sahabat-sahabatnya dan berjalan bersama mereka hingga tiba di Dumah Al Jandal sebuah negeri yang terletak di antara Syam dan Madinah, dekat dengan gunung Tha’i. Ketika beliau memasuki negeri selama tiga hari beliau menyeru mereka kepada Islam. Pada hari yang ketiga, seorang bernama Asbagh bin Amr Al Kalbi masuk agama Islam. Sebelum memeluk islam ia adalah seorang Nasrani dan ketua bagi kaumnya. Abdur Rahman Auf ra menulis surat kepada Rasulullah saw yang dibawa oleh seorang laki-laki dan Juhainah bernama Rafi’ bin Makits dan memberi tahu beliau hal tersebut. Maka Nabi saw pun membalas suratnya dan memberi tahu Abdur Rahman bin Auf ra supaya menikahi anak gadis Al Asbagh. Lalu Abdur Rahman menikahi putrinya yang bernama Tumadhir, dan sesudah itu Tumadhir melahirkan seorang anak lelaki untuk Abdur Rahman bin Auf ra yang bernama Abu Salamah bin Abdur Rahman. Riwayat ini tertulis dalam kitab Al Ishaabah (1/108).

Rasulullah saw Mengutus Khalid Bin Walid Ke Najran.

Dinukilkan oleh lbnu Ishaq bahwa Rasulullah saw mengutus Khalid bin Walid ra. kepada Bani Harits bin Ka’b di Najran (pada bulan Rabiul Akhir atau Jumadil Ula 10 H.) dan memerintahkannya supaya menyeru mereka kepada agama Islam selama tiga hari, sebelum memerangi mereka. Jika mereka menerima seruan itu, maka terimalah mereka. Jika tidak, perangilah mereka. Maka Khalid pergi hingga ke Najran. Khalid ra mengutus pasukan berkuda untuk pergi ke setiap tempat dan menyampaikan dakwah Islam. Adapun seruan mereka adalah: “Wahai sekalian manusia, masuklah kalian ke dalam Islam, niscaya kalian akan selamat.” Maka mereka pun memeluk agama Islam. Khalid ra tinggal untuk sementara waktu bersama mereka, mengajari mereka mengenai Islam dan kitab Allah serta sunnah Nabi-Nya sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah saw, jika mereka mau menerima Islam dan tidak memerangi. Riwayat ini tertulis dalam kitab Hayatus Shahabah (1/128).

Surat Umar ra. Kepada Sa’ad Supaya Mendakwahkan Manusia Kepada Agama Islam Selama Tiga Hari.

Diriwayatkan oleh Abu Ubaidah dan Yazid bin Abu Habib katanya : Umar bin Al Khaththab menulis sepucuk surat kepada Sa’ad bin Abu Waqas ra. yang isinya, “Sesungguhnya aku menulis surat kepadamu agar mendakwahi manusia kepada agama Islam selama tiga hari, maka barangsiapa yang menerima seruan dakwah ini dan memeluk Islam sebelum terjadinya perang, maka ia adalah laki-laki dan kalangan orang Islam. Ia mempunyai hak dan kewajiban sebagaimana orang-orang Islam lainnya. Ia mempunyai hak untuk memperoleh bagian dalam harta rampasan (ghanimah). Barangsiapa yang menerima seruanmu setelah selesainya perang atau setelah kekalahan mereka, maka hartanya adalah fa’i bagi orang-orang Islam, karena sesungguhnya mereka telah mempertahankannya sebelum ke-Islamannya. Maka ini adalah perintah dan surat kepadamu.” (Al Kanz)

Dakwah Salman Al Farisi Selama Tiga Hari Pada Han Istana-Istana Putih di Persia. Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Al Hilyah dan Abu Al Bukhtari bahwa sepasukan tentara Islam yang dipimpin oleh Salman Al Farisi ra. telah mengepung sebuah istana dan istana-istana putih di Persia. Tentara-tentara itu berkata kepada Salman, “Ya Abu Abdullah, apakah tidak kita serang saja mereka?” Salman menjawab, “Biarlah aku yang mengurusnya, aku akan mendakwahkan Islam kepada mereka terlebih dahulu selama tiga hari sebagaimana yang telah aku dengar dan Rasulullah saw dan sebagaimana kebiasaan dakwah mereka.” Salman berkata kepada orang-orang Persia itu, “Aku adalah seorang lelaki dari kalangan kamu, bangsa Persia. Apakah kamu tidak melihat bahwa orang-orang Arab telah menaatiku, maka jika kamu memeluk Islam, kamu akan mempunyai hak dan kewajiban sebagaimana kami mempunyai hak dan kewajiban. Sebaliknya, jika kamu ingkar dan terus berpegang kepada agamamu, maka kami akan membiarkanmu untuk terus berpegang kepada agama itu, tetapi kamu harus membayar jizyah dan kamu adalah taklukan kami.” Salman berbicara kepada mereka dengan bahasa Persia, antara lain katanya, “Kamu tidak akan disanjung dan dipuji jika kamu menolak agama Islam dan kami akan menyamaratakan di antara kamu.” Orang-orang Persia itu menjawab, “Kami tidak akan beriman dan tidak akan membayar jizyah, bahkan kami akan memerangi kalian.” Tentara-tentara Islam pun berkata kepada Salman, “Ya Abu Abdullah, kita serang saja mereka.” Jawab Salman, “Tidak.” Maka Salman melakukan dakwah kepada mereka selama tiga hari. Tetapi setelah tiga hari berlalu, mereka tetap menolak Islam. Maka Salman pun berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Bangunlah dan perangi mereka.” Tentara Islam pun bangun dan memerangi orang-orang Persia itu sampai akhirnya mereka dikalahkan. Dikeluarkan juga oleh Al Hakim dalam kitab Al Mustadrak dan Ahmad dalam musnadnya sebagaimana dalam kitab Nasbirra’yah yang mengeluarkan hadits-hadits hidayah dengan maknanya: Ketika tiba hari keempat, Salman ra memerintahkan orang-orang Islam supaya menyerang pada pagi hari dan menawannya. Dikeluarkan juga oleh Ibnu Abu Syaibah sebagaimana dalam Al Kanz dan dikeluarkan juga oleh Ibnu Jaris dan Abu Al Bukhtari, katanya, “Pimpinan orang Islam ketika itu adalah Salman Al Farisi, yang telah diangkat oleh mereka untuk menyeru orang-orang Persia kepada Islam.”   

Assalaamu’alaikum…

Posted on Updated on

KEUTAMAAN UMMAT AKHIR JAMAN

MEKKA

Fitrah ummat akhir jaman adalah menunaikan kerja dakwah dalam rangka melanjutkan estafet perjuangan Rasulullah saw.

Dengan dakwah, Allah swt akan memperbaiki keadaan iman dan amal kita, mengampuni dosa-dosa kita, menolong nasib kita dunia akherat dan mengekalkan hidayah dalam hati kita hingga akhir hayat sekaligus menjadikan kita sebagai asbab hidayah bagi ummat di seluruh alam.